Selasa, 01 Mei 2012

"Mba KAS"



Dari kemarin dapat sms dari bekas pembantu kami, yang ingin balik lagi ke rumah, setelah tidak bekerja lagi di rumahku 4 bulan yang lalu karena harus mengurus ibunya yang sakit di Cilacap. Ternyata Ibunya meninggal karena diabetes,akhirnya.Aku merasa lega, karena aku tidak menahan mba Kas untuk tidak pulang ke Ibunya. AKu iklaskan dia waktu itu untuk merawat ibunya, walaupun aku sebenarnya tidak mau kehilangan dia sebagai pembantu).

Mba Kas
Namanya mba Kas. Sebenarnya aku sangat senang dengan beliau, kerjanya rapih, bersih, cepat, sudah tahu yang harus dilakukan untuk pekerjaan rumah tangga, selalu bertanya padaku jika tidak tahu, selalu inisiatif duluan dengan bertanya,"Ibu mau masak apa?" "Ibu mau dibeliin apa di tukang sayur?" bahkan kalau mau pulang ke rumahnya sore hari, dia bertanya lagi,"Masih ada yang mau dikerjain ngga, bu?" Wahh, dengannya aku tenang. Mba Kas aku dapatkan dengan kekuatan pikiran hehehehe..Saat itu seminggu sebelum Evan lahir, aku belum menemukan pembantu. Akhirnya aku mulai mencari, setelah sebelumnya malas mencari pembantu yang "pulang hari" dekat rumah, dengan pengalaman 3 kali tidak ada yang cocok di hati. Sekali bertanya aku langsung ditunjukkan oleh seorang ibu di sebuah warung tentang Mba Kas yang memang sedang mencari pekerjaan dekat rumahnya. Wahh pucuk dicinta ulam tiba. Dan pada pandangan pertama, aku sudah sangat yakin, aku cocok dengannya. Raut wajahnya positif, ada senyumnya, jari tangannya gendut-gendut, dan dia "bersuara". Kadang ada juga orang yang ditanya, cara menjawabnya tidak bergairah, tidak ada gairah. Sedang mba Kas, saat itu menunjukkan dia punya semangat. Hihihihi...begitulah aku menilai seseorang untuk mendapat kesan pertama.

Aku sangat terbantu dengan adanya mba Kas saat-saat setelah melahirkan Evan. Selama 3 bulan pertama, Evan aku yang pegang. Tapi setelah 3 bulan, aku mulai mempercayakan Evan untuk dipegang Mba Kas. Ini karena aku harus memulai pekerjaan baruku untuk antar jemput anak sekolah teman-teman TK Arvind saat itu.

Mba Kas ini sudah menikah, tapi belum dikaruniai anak. Tapi cara dia menjaga Evan, menggendong Evan, meninabobokan Evan, menenangkan Evan, membuatku tenang meninggalkan Evan tiap 2 jam pagi hari dan 2 jam siang hari setiap harinya. Ternyata yang membentuk Mba Kas bisa sangat apik bekerja adalah dia sudah memulai pengembaraannya di Jakarta sejak kelas V SD. Karena sakit-sakitan waktu kecil, akhirnya orang tuanya tidak melanjutkan sekolah mba Kas saat itu. Akhirnya dia mengikuti kakaknya yang sudah lebih dahulu bekerja di jakarta. Dengan pengalamannya bekerja di Jakarta sebagai pembantu rumah tangga (saat ini usia mba Kas 29 tahun), dengan memahami karakter banyak majikan yang dia abdi, mba Kas tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan rajin.

Pengalamannya menjadi pembantu rumah tangga juga banyak diceritakannya padaku. Ternyata banyak juga kisah yang tidak menyenangkan yang harus dia alami selama bekerja. Aku tidak ingin banyak menceritakan kisah sedihnya di sini, tapi yang aku maknai adalah, pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, mungkin bukan cita-cita kebanyakan orang, bahkan bagi perempuan di pedesaan yang tidak dapat bersekolah lebih tinggi. Kita tahu pekerjaan pembantu ini sangat dibutuhkan bagi banyak keluarga, apalagi banyak ibu bekerja di luar rumah saat ini. Tetap saja jasa mereka banyak dibutuhkan.

Bisa mengenal sosok Mba Kas dalam 6 bulan kehidupan kami, membuat aku sadar, sebenarnya masih ada sosok pembantu rumah tangga yang bersahaja. Saat ini, kebanyakan pembantu rumah tangga adalah anak-anak abad 20, anak-anak dengan era teknologi. Handphone adalah barang berharga mereka, sebagai teman, sahabat, pengobat rindu, alat sosialisasi, sekaligus bumerang buat para majikan. Bekerja sambil berhandphone ria sudah menjadi pemandangan biasa saat ini. (dalam hati pasti para pembantu ini mengatakan, "Lah, tuan/nyonya nya saja tidak bisa lepas dari handphone." hehehehe) Lohh kok nulisnya jadi lari ke handphone??maklum nulis jam 01.30..hehehe...

Saat ini aku sudah memiliki "Nek Iyah" yang bekerja di rumah kami. Walaupun pekerjaannya tidak serapi dan setangkas Mba Kas, aku tidak akan memberhentikannya demi Mba Kas. Nek Iyah juga sudah menjadi bagian dari kehidupan kami saat ini, sudah mewarnai kehidupanku 4 bulan ini. Mba Kas aku referensikan ke tetanggaku yang membutuhkan tenaga cuci gosok di rumahnya. Aku senang karena aku bisa mengiklaskannya dengan santai, aku tidak mau terikat pada sesuatu atau seseorang. Inilah jalan kehidupan.Saat ini, aku tidak bisa menerima Mba Kas kembali walaupun tahu betapa senangnya jika dia bekerja lagi di rumah kami. Hidup..ohh hidupp...hikss mulai lebai..yang berarti harus dihentikan menulisnya. Sudah mulai ngelantur hehehe...Salam Mba Kas !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar